Negri Van Oranje That I love

Holland.jpg
foto kincir angin ini saya foto di bus, di perjalanan ke Volendam

Dari judulnya, mungkin anda langsung teringat akan sebuah film layar lebar ber-genre drama yang baru tayang di bioskop beberapa minggu belakangan ini. Sebuah film yang menceritakan tentang sekelompok anak muda yang sedang melanjutkan study di Belanda.

Bukan, bukan itu yang akan saya bahas. Bukan juga mau membahas tentang sejarah kelam bangsa kita tercinta yang dijajah Belanda selama 350 tahun.

Tapiiiii…, yuuuukk dibaca terus yaaa pemirsaa, eh pembacaa 😀 😀 😀

 Amsterdam9.jpg

Mendengar nama Belanda, apa sih yang ada di pikiran anda? Bangsa penjajah, kincir angin, kanal, keukenhof, red light distrik? Yuuupp seratus untuk anda. Belanda sangat identik dengan itu semua.

Belanda adalah Negara ke tiga yang kami, #segitigasamacinta, sambangi dalam rangkaian perjalanan keliling Eropa kami. Ciiieee, keliling Eropa booooww. Padahal mah cuman beberapa Negara doang. :-p :-p :-p

Saya pribadi sangat penasaran ingin melihat dari dekat seperti apa sih rupa negeri Belanda? Negeri yang selalu disebut – sebut dalam buku sejarah Indonesia. Negeri dimana sebagian besar tokoh – tokoh bangsa Indonesia ‘tempo doloe’ menuntut ilmu.

Belanda bukanlah alasan saya untuk menginjakkan kaki di benua biru. Karena sebelumnya saya punya kota favorit di belahan Negara lain. Ach, tapi nantilah. Mengenai kota itu akan saya ceritakan di tulisan yang terpisah. Deileehh, ciyuuuss? Emang bisa nulis? 😀 😀 😀

Kami masuk Eropa melalui Negara Perancis. Menginap 2 (dua) malam di sana, terus singgah di Belgia sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan ke Belanda.

Amsterdam

Amsterdam8.jpg

Kanal dan bangunan khas Belanda

Dengan menggunakan moda transportasi bus, kami meninggalkan Brussels. Hanya membutuhkan waktu 3 – 4 jam, kami sudah bisa menginjakkan kaki di negeri Belanda.

Tiba di Amsterdam sekitar pukul Sembilan malam. Langit masih sangat terang saat itu. Maklum pada waktu summer, langit eropa terang lebih lama.

Suara bising wisatawan dari berbagai penjuru dunia memenuhi segala sisi. Rupanya orang Eropa suka sekali bepergian dikala summer. Dan malam itu kebetulan kesebelasan Oranje sedang berlaga di piala eropa. Tidak heran di sana sini banyak orang memakai baju kebanggaan sang tim. Lautan oranje ‘merubah’ warna malam. Halaaahh ko jadi puitis giniiihh yaa…

Kami menikmati Amsterdam di malam hari, sambil menggeret koper dan mencari penginapan. Melewati Dam square, madam tussaud, dan menyusuri kanal – kanal cantiknya.

Sekejab Amsterdam sudah ‘mencuri’ hati saya. Seperti itu. Mi apaaa? Miyabi. Eh salah. :p :p

Amsterdam4.jpg
Kanal cantik

Setelah makan malam ringan dan akhirnya mendapat kamar, kami pun istirahat. Membiarkan para supporter tim Oranje larut dengan yel-yel, dan hiruk pikuk sebuah pesta olahraga.

Walaupun waktu tidur yang sangat singkat, tapi tidak menghalangi kami untuk bangun pagi. *asyiikkk.

Hostel menyediakan sarapan bagi tamunya. Walau pun hanya berupa roti bakar doang, tapi sudah cukuplah untuk sekedar mengganjal perut.

Jonas6.jpg
Saya dan Bunga di depan Madame Tussaud

Setelah rampung sarapan, kami tidak langsung pergi. Suami saya sibuk mencari hotel, sementara saya dan Bunga ‘dititipkan’ di hostel (barang kali di titip 😀 ), Biar tidak terlau crowded seperti tadi malam, begitu alasan suami saya. Iiihh sooo sweet banget siihh kamyuuu papse 😀 😀 😀

Amsterdam1.jpg
#segitigaSamaCinta di depan Dam Square…

VOLENDAM

Setelah pindah dari hostel ke hotel. Kami bergegas ke central station dan melesat ke volendam.

Oh ya, di Amsterdam enaknya, stasiun bus dan stasiun kereta terpusat di satu tempat, ya di Central station itu. Jadi kita tidak perlu repot kesana sini untuk mencari dimana stasiun kereta, dimana terminal bus. Central station pun berada di jantung kota Amsterdam.

Volendam ditempuh lebih kurang 1 (satu) jam dari Amsterdam central. Kami menggunakan bus kesana. Busnya bersih banget. Dan yang lebih seru lagi, ada wifi nya juga. Biasa lah orang Indonesia (eh saya aja kali), kalau tahu ada wifi pasti girang. Hari gini cyiiiin, update status itu penting pake bingit. Hehe.

Tiba di volendam, mata dimanjakan oleh deretan rumah-rumah mungil khas Eropa yang berjejer rapih di sepanjang jalan. Bunga-bunga cantik di letakkan di jendela. Indah sekali.

volendam10
deretan rumah mungil cantik dengan bunga-bunga di letakkan di tiap jendela.

 Volendam1.jpg

Rasa Lapar menuntun kami ke sebuah café yang kursi-kursinya ditata sedemikian rupa persis di pinggir laut. Pengunjungnya lumayan ramai. Pengunjung dengan kulit berwarna hanya kami saja, selebihnya buleleng semua.

Selain memang ingin mengisi perut, ada ‘misi’ lain yang tiba-tiba melintas di benak kami. Kami ingin merasakan bagaimana dilayani oleh si noni Belanda.

Indonesia sudah merdeka bung. Saatnya ‘inlander’ memerintah si ‘kompeni’.

“saya mau yang enak…!”

kata saya pada si noni saat dia menghampiri meja kami. Untung saya gak pake gebrak meja. Hahaha.

Sang waitress begitu sigap melayani. Kami menyebut nama menunya, dia hanya memencet-mencet tombol gadgetnya, yang langsung ter-conect di dapur. Hebat banget, pikir saya saat itu. Maklum ndeso, baru liat model pelayanan macam itu.

Volendam5.jpg
when ‘inlander’ served by ‘kompeni’ *LOL

Kami memesan dua porsi makanan Belanda (istilah mertua kalau melihat makanan non nasi 😀 ), lupa namanya apa. Kenapa cuma dua porsi padahal kami kan bertiga? Soalnya, Porsinya besar banget. dua porsi bertiga sudah lebih dari cukup.

Volendam4jpg.jpg
dua porsi makanan Belanda

Setelah kenyang dan puas ‘ngerjain’ si noni. kami berjalan menyusuri deretan toko souvenir dan studio foto. sejurus kemudian kami ‘terjebak’ agak lama di sebuah studio foto. Kami pengen gegayaan buat foto keluarga dengan menggunakan kostum khas Belanda.

Rupanya Orang Indonesia sangat menyukai foto session ini. Terbukti banyaknya foto-foto selebritas kita yang dipajang disana. Mulai dari artis papan atas, papan penggilesan, sampai mantan presiden kita ada. Luar biasa!

Kami menghabiskan waktu sampai sore menjelang di Volendam. Menyusuri jalanan beraspal di pinggir lautnya. Sambil menikmati matahari yang pulang. *lebay.

MENCARI JEJAK KEJU DI EDAM

Pagi-pagi kami segera menuju central station. Tujuan kami hari itu adalah Edam.

Edam dikenal sebagai kota penghasil keju terenak dan termashur di negri Belanda.

Anak saya, Bunga, yang memang doyan sekali makan keju penasaran ingin merasakan langsung di kota pembuatannya.

Setibanya di Edam, lagi-lagi mata saya dimanjakan dengan deretan rumah-rumah mungil nan cantik di pinggir kanal, yang di halamannya ditanami aneka macam bunga warna warni. Saya seperti sedang membuka buku dongeng dan menikmati gambarnya.

Edam1

edam8

Sesekali oma dan opa keluar rumah dan menyirami tanamannya. Satu – dua motor boat melintas di kanalnya yang bersih. Kami menghabiskan waktu agak lama untuk menikmati suasana disitu. Sejenak kami lupa, bahwa kami ke Edam untuk melihat pabrik keju bukan mau lihat rumah. Hihi.

Akhirnya kami beranjak dari sana dan menyusuri ‘kampung’ itu dengan berjalan kaki. Ya iyalah, mau naik apa coba? Disitu tidak ada angkot apalagi go**k (teeet, iklan).

Sepanjang jalan, jarang sekali kami berpapasan dengan warga. Kampung disitu seperti mati. Lengang dan sepi. Seperti Tidak ada ‘kehidupan’ sama sekali. Pada kemana penghuninya? Pun kami tidak mendengar suara teriakkan percakapan antar tetangga, atau anak – anak kecil yang bermain layangan seperti kebanyakkan di kampung – kampung di Indonesia tercinta. Kami hanya melihat sebuah mobil melintas dengan cameraman yang sedang sibuk mengambil gambar. Entah untuk keperluan apa.

edam7

Kami celingak celinguk mencari pabrik keju yang dimaksud. Berjalan mengitari kampung tapi tidak menemukan si pabrik. Akhirnya kami putuskan untuk mampir di sebuah toko yang menjual aneka coklat berbentuk lucu nan imut. Aneka permen dan keju tentu saja. Aahh, sebenarnya kalau sekedar ingin membeli keju tentu lah sangat mudah di temui dimana-mana di Belanda, tapi karena kami ingin melihat pabriknya makanya kami ke Edam.

 edam9

Tapi buat saya, tidak ada perjalanan yang sia-sia. Tidak perlu juga menyesal karena tidak berhasil melihat pabrik keju dan menyaksikan proses pembuatannya. Saya sudah sangat terhibur dengan damainya kota kecil itu.

Fall in love at the first sight.

Yup. Mungkin ungkapan itulah yang saya rasakan begitu menginjakkan kaki di negeri Belanda. Malah bisa di katakanan sebelum benar-benar menginjakkan kaki di kotanya, saya sudah fall in love. Di atas bus, saya sudah begitu menikmati pemandangan yang disajikan alam disana. Petani – petani yang sibuk mengepak hasil ladangnya sehingga berbentuk bulat – bulat besar. Sapi – sapi hitam dengan totol – totol putih menjadi pemandangan mengasyikkan selama perjalanan.

sapi.jpg

Sebenarnya dua Negara sebelumnya yang kami singgahi, dan beberapa Negara setelahnya juga sangat indah dan menarik. Namun bagi saya pribadi, Belanda menyajikan suasana yang ‘beda’.

Amsterdam dengan hiruk pikuk khas kota. Lalu lalang orang bersepeda mengingatkan saya pada kota jogja.

Kanal – kanalnya begitu bersih dan indah. Rumah-rumah khasnya berderet rapih dengan gradasi warna seperti lukisan. Tidak ada warna yang tiba-tiba menyolok mata seperti ingin menonjol sendiri. Sangat harmoni.

 street-AMsterdam

Volendam dengan deretan rumah-rumah mungil di pinggir laut dan café-café cantik dan juga toko-toko souvenir di sepanjang pantai, seperti rumah-rumahan mainan masa kecil yang disulap jadi nyata. Selintas saya seperti sedang berada di dunia fantasi.

Edam kota kecil yang cantik, damai, dan sepi. Sama dengan Amsterdam dan Volendam, tertata rapih jali.

Sepanjang penglihatan saya, Belanda sangat rapih dan terencana. Tata kotanya luar biasa. Sulit untuk di ungkapkan dengan kata- kata.

Suami saya sampai berkelakar. “nanti kalau saya pensiun, saya ingin menetap di sini”, katanya menunjuk kota Edam.

Edam3

Edam2

Belanda sudah jauh.

Suatu saat saya ingin kembali kesana. Salah satu Negara yang membuat saya fall in love at the first sight.

Dank je…

Amsterdam6.jpg

MY SOULMATE IS MY TRAVELMATE

x8

Travelmate itu apa sih? Aahh, teman-teman traveler pasti sudah pada ngerti lah yaa apa itu travelmate. Hehehe..

 

Mendapatkan travelmate itu gampang-gampang susah. Mencari yang ‘seirama, sejiwa’ itu bukan perkara mudah, harus diperjuangkan, halaaahhh kayak mau cari pasangan hidup ajaahh.. eehh, tapi bener loh, travelmate itu sama halnya dengan “pasangan hidup” harus bisa mengerti, memahami, mengalah, dan me me yang lain deh.. bayangin kalau kita melakukan sebuah perjalanan yang berhari-hari bahkan berminggu-minggu kemudian travelmate kita menyebalkan pasti bête banget doong, iyaa gakk??

Iyalah. Karena mencocokkan hobi, minat, dll tidak mudah jenderaaall.. hadeeehh..

 

My Husband is my travelmate.

Oke, kita tidak perlu berdebat panjang dengan istilah, arti, atau pun urusan saling memahami dengan pasangan hidup, eh dengan travelmate.

Herewith I introduce my real travelmate ever. Yup, he is my dear husband (hadeeh ko mendadak ngenggres geneh yaahh :D).

Kami mulai menjalani traveling kami as a couple yaitu di penghujung bulan Desember tahun 1996, atau 2 (dua) bulan setelah kami menikah. Jogja adalah kota pilihan kami untuk menjalani ‘bulan madu’ kami yang tertunda. Bukan Bali apalagi Singapura seperti kebanyakkan teman-teman kami saat honeymoon. Jogja seperti memiliki ‘aroma’ petualangan yang seru. Kami malah sempat kepikiran untuk menumpang kereta sayur sebagai moda transportasi bulan madu kami saat itu. Hihihi anti mainstream banget yaahh..

DSCF3579.JPG

Ulang tahun perkawinan pertama kami dirayakan di Bali (aah ke Bali juga akhirnya, hehehe).

Setelah Jogja, Bali, kemudian diikuti dengan traveling ke daerah-daerah lain di Indonesia dan juga keluar negeri kami jabanin.

Tidak sulit ‘menyatukan’ minat kami dalam hal menjalani traveling. Demikian juga dengan hal-hal detail dan remeh – temeh lain semisal dandan atau packing-packing yang super lelet sudah biasa buat travelmate saya, atau kadang kalau mau berlama-lama di satu tempat akan lebih gampang diatur.

Travelmate saya ini sekaligus seksi repot saya, hahaha. Mulai dari booking ticket, hotel, sampai urusan ‘angkat berat’ berupa bawaan saya yang segudang itu menjadi urusannya. Do’i penyabar banget nget (papse jangan GR yee..). gak salah deh pokoknya saya memilih ‘travelmate’ macam tuh, hehehe. Thanks so much yaa papse. Love you puuuuull laahh 😀 😀

Europe Trip #11 060.jpg

 

My Daughter Also My Travelmate

Jonas1

Anak saya, Bunga sudah mulai kami ajak melancong kiri kanan sejak dia masih bayi. Di umurnya yang baru 7 (tujuh) bulan sudah harus ikut kami pindah dari Jakarta ke Jambi. Dan kota itu menjadi perjalanannya pertamanya yang lumayan jauh.

Karena alasan pekerjaan suami yang harus kesana kemari membuat Bunga ‘terpaksa’ ikut. Pun pindah dari satu kota ke kota yang lain sudah lumrah dia jalani. Kadang dulu waktu dia masih kecil seringkali dia menanyakan “kapan kita pindah kota lagi?

Perjalanan panjang kami ketika kami traveling ke Eropa tidak membuat dia berkeluh kesah. Transit berjam – jam di suatu Negara untuk melanjutkan perjalanan kami berikutnya tidak masalah baginya. Dia sabar sekali. Tidak pernah ada keluh kesah kalau sedang traveling. Tidak pernah menunjukkan sikap manja karena dia anak tunggal dan umur yang masih terbilang belia.

Dia bahkan ikut menenteng barang bawaan juga, walaupun yang paling berat tetap urusan papanya. Hihi.

Jonas12 campuran 455.jpg

Europe Trip #1 007.jpg

 

saint-Michel.jpg

gw4

 

 

Segitiga Sama Cinta

Jalan ramai-ramai dengan teman, kerabat, atau ikut tour travel bukan tidak pernah kami jalani, namun akhir – akhir ini setelah kami mengenal apa itu backpacking, kami lebih sering jalan bertiga terutama untuk perjalanan jauh semisal ke luar negeri.

Mereka berdua adalah the real travelmate saya. Kemana-mana asal kan senang, dan tiada yang melarang deh pokoknya, hehe.

Rasanya aneh saja kalau ada salah satu dari kami tidak ikut serta. Seumpama bantal tanpa sarungnya (waduuuhh istilah apa nih..?). Kami adalah three musketeers, ‘one for all, all for one’ deh. Kami adalah one package, called #segitigaSamaCinta ….

rome9

SSC1.jpg

3-bayangan-narsis.jpg

PS ; foto2 lamanya menyusul yaa, karena saya harus buka-buka file dulu.

Norak-norak Bergembira di Singapore dan Malaysia

DSCF6754 copy
Di meja kerjaku, duluu…
DSCF6756
Salah satu teman kantor berulang tahun

hhhmmm… ahhhh akhirnya saya dihadapkan dengan laptop dan mulai menulis…

sebelum memulai bercerita mengenai pengalaman saya ke Singapore dan Malaysia, yang nota bene adalah pengalaman pertama saya melancong ke Luar negeri, saya ingin ‘curhat’ dulu sedikit (dasar mak mak, belum belum udah curhat aja 😀 😀 😀 )

Saya sebenarnya tidak bisa menulis,  gak ngerti harus memulai tulisan dari mana. Pokoknya seperti yang saya katakan pada saat sesi perkenalan diri di kelas “Belajar Menulis Blog” di Coffeegrapher beberapa waktu lalu, “saya gak tau mau ngapain?” boro-boro nulis blog, nulis caption di foto yang akan saya posting di FB saja rasanya sangat sulit. hehehe.

Untuk urusan tulis menulis ini, saya jadi ingat waktu jaman masih SD dulu. Jadi ceritanya, kalau pas pelajaran Bahasa Indonesia sekali – sekali kami ditugaskan untuk membuat karangan bebas dengan judul dan tema yang sudah ditentukan oleh guru.  Banyaknya tulisan sih gak panjang-panjang amat, hanya setengah halaman saja. Namun kalau kita tidak bisa mau setengah halaman, atau sebaris sekalipun akan sulit untuk dikerjakan. Saya gak kehabisan akal,  saya menulis karangan itu dengan huruf yang sengaja dibuat besar – besar supaya lembaran kerja saya bisa penuh setengah halaman.  hahaha.. gampang kan? aaahhh seharusnya “menulis itu memang gampang”

Namun ada ‘kegelisahan’ (ciiee gelisah 😀 ) yang luar biasa yang gak bisa dibendung lagi. kegelisahan ingin berbagi dan bercerita.

Jadi, saya dan keluarga kecil saya yang bahagia (insha Allah), suka sekali traveling, baik itu dalam negeri maupun keluar negeri. Saya ingin sekali membagi (gak mau disebut pamer ) pengalaman traveling kami pada orang lain. Syukur – syukur kalau tulisan saya bisa bermanfaat bagi pembaca tulisan saya kelak. Dan lebih dari itu , saya ingin pengalaman tersebut dapat dibaca lagi setelah sekian tahun kemudian, bisa menjadi semacam “mesin pengingat” begitu kira – kira.

Sebenarnya suami saya sudah lebih dulu membuat blog dan menulis cerita  perjalanan kami, tapi saya yakin, masing-masing orang akan mempunyai angle yang berbeda dalam hal meng-capture cerita, sekalipun  kita melakukan sebuah perjalanan itu pada waktu dan tempat yang sama.  begitu kan pemirsa..? (serius amat sih bacanya 😀 )

Kejadiannya sudah puluhan tahun lewat, tepatnya di sekitar bulan April tahun 1994 (so lama betul yak). Adalah perusahaan tempat saya bekerja di Jakarta dulu yang berbaik hati memboyong kami sekantor untuk jalan- jalan ke luar negeri. Tidak tanggung – tanggung, dalam sekali jalan dua negara terlampaui, yaitu Singapore dan Malaysia. Dengan segala macam biaya keseluruhan ditanggung oleh perusahaan (asyiik bukan??  😉

Pada Jaman itu walaupun nilai tukar rupiah terhadap dollar tidak segila sekarang, namun segalanya terasa mahal. Jangankan untuk berpikiran melanglang buana semisal ke Jepang apalagi Eropa, ke Singapore saja sudah “WOW…berjuta rasanya”…

Berawal dari obrolan iseng selepas jam makan siang, saya dan beberapa teman yang sudah senior ‘mengusulkan’ untuk pergi jalan-jalan ke Singapore, seperti yang pernah dilakukan perusahaan beberapa tahun sebelumnya. “kan perusahaan lagi untung besar, pak..” begitu lebih kurang pinta kami saat itu.

Oh ya, perusahaan tempat saya bekerja itu bergerak di bidang ekspor impor, International Trading (consumer goods, pApper, urea fertilizer, cement, dll. Pokoknya PALUGADA lah, alias “apa lo mau gue ada” 😀 ), Shipping, sekaligus International Forwarding, dengan branch office di beberapa negara seperti : Singapore, Hong Kong, Vietnam, Philipina, China, Cambodia, bahkan di negara Eropa seperti Ukraine dan Poland, . Saya saat itu kebagian sebagai Sekretaris Direktur Utama yang juga merupakan Owner dari perusahaan tersebut dan berkantor di Jakarta. (Aaahhh itu duluuuu, sekarang saya apa atuh…)

Kemudian dari ngobrol-ngobrol itu disepakatilah waktu keberangkatannya. Durasi waktunya lima harian, dengan kunjungan ke dua Negara seperti yang saya sebut di atas.

Tapi kesenangan itu terhenti sejenak, karena yang boleh ikut berangkat adalah mereka – mereka yang sudah bekerja di perusahaan minimal 1 (satu) tahun. Lah, saya kan belom setahun kayaknya.. huhuhu. Tapi karena kebijakan dari perusahaan maka saya diperbolehkan ikut serta. Asyiiiikk.. thanks a lot boss, Pak Eko Nilam, Bu Windy Nilam, saya tidak akan pernah bisa lupa kebaikan itu.

Saya yang belom pernah sama sekali ke luar negeri, tentu saja belum memiliki paspor. “wah ini persoalan baru nih…” batin saya saat itu. Urusan bikin paspor itu amatlah ribet di jaman itu, persyaratan yang segambreng – gambreng plus biaya yang tidak sedikit. Dibutuhkan biaya lebih kurang 500 ribu rupiah untuk proses pembuatan paspor. “wah bakal menipis dong gaji sebulan hanya untuk urusan ini” kembali batin berbisik.  Namun sekali lagi kebaikan perusahaan yang membiayai pembuatan paspornya.. Alhamdulillah, semoga rezeki berlimpah untuk mantan Boss saya, aamiin..

Akhirnya hari H pun tiba. keberangkatan yang bertepatan dengan bulan puasa dimana beberapa hari lagi akan idul fitri. Tapi gak masalah, kan kita bisa melakukan ibadah dimana saja toh..

Karena waktu keberangkatannya pagi-pagi sekitar pukul 06.30, jadi saya putuskan untuk bermalam di rumah seorang kawan, hanya untuk memudahkan dan lebih – lebih biar tidak “kebingungan” nanti di airport, hehe. Ini adalah perjalanan pertama saya keluar negeri, sekaligus perjalanan “pertama” saya menggunakan pesawat terbang dengan durasi terbang lebih lama. (dulu waktu kecil naik pesawat dari Bima sampai Bali doang)..

Singapore = Belanja….

Setiba di Singapore, luar biasa bahagianya. Andaikan jaman itu sudah ada handphone ber-camera dan sudah pula ada sosmed seperti sekarang, mungkin di wall saya akan berhamburan foto2 “norak” saya selama disana, dan update-an status “lagi ada disana, lagi ada disini”, tentu saja 😀

Seingat saya, selama di Singapore tidak ada tempat wisata yang kami datangi, kami hanya makan-makan, shopping, makan-makan lagi, shopping lagi… hahaha horang kayaaahh…

DSCF6691
Pasukan siap menyerbu Mall… Shopping kiteee,, hehehe
DSCF6692 copy
Namanya juga norak2 bergembira, dimanapun pasti foto2..hahaha.. ( somewhere in Singapore )
DSCF6693
nge-Pub kite di Where Else, Singapore. ki – ka atas : Vicky, Emmy, Victor, my Boss Eko Nilam ki – ka bawah : Lydia, Sulis (almarhumah), Rina, me, bu Luci

Kesempatan pergi ke Singapore membuat kami seperti “kalap” pengen beli semuanya, segala yang di display di mall kelihatan “lucu” di mata kami, ditambah lagi adanya titipan belanjaan dari kerabat di Jakarta yang membuat saya seperti seorang pramuka yang sibuk mencari jejak untuk mendapatkan barang yang dimaksud penitip. Tapi itu pun kerjaan yang sangat saya nikmati.

Berburu barang branded yang sudah di diskon adalah keasyikkan sendiri. Sebut saja kaos atau jins Giordano, jam tangan Charles Jourdan (CJ), gesper CJ, la Dona, baju dan sepatu merk Annanas atau Wimo, lipstick Yves Saint Laurent (YSL), Christian Dior (CD), Estee Lauder, Mark n Spencer, asessoris  Monet dan Comel (brand Singapore), sampai tas high brand macam Aigner tak luput dari perburuan. Karena sekali lagi mumpung lagi di Singapore, kalau di Jakarta belum tentu barang yang sama sudah ada, atau kalaupun ada harganya sudah selangit biru.. *lebay

DSCF6771
Tas Aigner dan Jam tangan Charles Jourdan hasil buruan di Singapore yang masih “utuh” sampai saat ini.. Dan kini barang-brang ini dipakai oleh Bunga, anak saya.

Semalam menginap di Singapore, ke-esokan harinya kami pindah Negara (cieee). Dengan menumpangi bus pariwisata besar kami dari rombongan Jakarta office bergabung dengan karyawan branch office Singapore. Sama – sama menuju Malaysia. Sebelum tiba di Kuala Lumpur kami mampir di sebuah temple yang berada diatas bukit (lupa namanya apa).

DSCF6699
Temple di atas bukit (lupa namanya)

Setibanya di Kuala Lumpur, seperti yang sudah sudah, kami hanya makan – makan, dan lagi-lgi diantar ke shopping Mall.

Kami hanya menginap semalam di KL, kemudian besoknya rombongan melanjutkan perjalanan ke Genting Highland.

Genting Highland ini bercuaca lumayan dingin, lebih kurang seperti puncak kalau di Jakarta. Disana tempat orang – orang “beradu” nasib dengan berjudi. Tidak sedikit orang tajirnya Indonesia mempertaruhkan rupiah mereka disana. Tak ketinggalan Saya dan teman – teman pun ikutan masuk kedalam tapi tidak untuk berjudi tentu saja, kami sekedar mau tahu seperti apa sih suasana didalam, Astagfirullah, ampuni saya ya Allah..

DSCF6700
Dinner @Genting Highland Resort Restaurant
DSCF6695
Break fast di hotel Genting Highland Resort….

Teriakan “BINGGO’ dari meja yang “beruntung’ malam itu bersahut – sahutan, bergantian dari satu sudut ke sudut yang lain.

Oh ya, untuk masuk ke “wilayah” itu haruslah mereka yang sudah cukup umur, minimal 17 tahun. Mereka tidak main – main dengan aturan itu, setiap tamu yang masuk harus menunjukkan paspor dan ID masing-masing, kalau ditemukan usia dibawah ketentuan maka petugas tidak akan segan-segan untuk mencegahnya. Disamping itu pakaian yang dikenakan haruslah rapih dan sopan, tidak diperbolehkan pengunjung memakai kaos oblong apalagi celana pendek.

Setelah puas ‘lihat-lihat’ kamipun kembali ke kamar untuk istirahat.

 

Takbir berkumandang di Genting Highland Resort

Untuk pertama kalinya saya yang kala itu masih lajang merasakan hari raya idul fitri jauh dari keluarga. Tentu saja campur aduk rasanya, sulit saya gambarkan seperti apa.Ucapan dari teman-teman kantor lumayan membuat hati semakin tak menentu. Apa mau di kata lebaran ini saya rayakan di sini, diantara sahabat kantor, di Genting Highland Resort….

 

Back to Singapore

Setelah puas foto-foto di segala sudut dan segala arah, kami pun meninggalkan Genting Highland untuk kembali ke Singapore. Di perjalanan kami sempatkan mampir di Batu Caves yang merupakan kuil bagi umat Hindu. Disini kita bisa melihat patung Dewi Murugan berwarna emas setinggi 42 meter. Terdapat 272 anak tangga untuk mencapai kuil dalam gua kapur tersebut.

Saya sih gak kuat untuk menaiki anak tangga sebanyak itu, saya hanya sanggup menapaki beberapa anak tangga saja kemudian berfoto-foto lagi dan lagi.. hahaha..

DSCF6696
di Batu Caves, Malaysia . ki – ka : Sulis (almarhumah), Mariyani, Ebonk, Rina, Evelyn, Lydia, me, Nana, (lupa namanya siapa, sorry).
DSCF6702 copy
hanya sanggup berfoto di tangganya saja..

 

Dan melanjutkan perjalanan…

Rombongan Jakarta kembali ke Jakarta ke esokan harinya. Sementara saya dan dua orang teman (Mariyani dan Nana) extend 2 malam. “nanggung” kata kami saat itu. Karena kebetulan trip bersama rombongan berakhir di weekend akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ini bertiga. Kami “menumpng” nginap di rumah kerabatnya Mariyani,

DSCF6749
Di rumah ini kami numpang nginap…

Hari – hari terakhir kami di Singapore diisi dengan jalan-jalan ke Sentosa Island, dengan menggunakan taxi (gaya yaahh..) kami menyambangi salah satu tempat wajib kunjung kalau kita ke Singapore tersebut. Masuk kedalam akuarium raksasa yang bernama underwater world yang nge-hits (dimasanya) itu adalah sebuah kewajiban.

DSCF6750 copy
di Under water world.. Sayang camera jadul gak sanggup merekam ikan-ikan yang menari manja di kolam raksasa itu.

Setelah dari Sentosa kami mampir lagi di Orchard Road, ngapain lagi kalau bukan untuk shopping lagi menghabiskan dollar Singapore kami yang tersisa.

Malamnya diakhiri dengan dinner bersama di Bugis Street, kali ini Ka Lisa yang merupakan salah satu dari keluarga pemilik perusahaan berbaik hati mentraktir kami. Mungkin beliau tau kalau keuangan kami sudah menipis.. hahaha. (makasih alm. Ka’ Lisa, semoga damai di alam sana)

 

JAKARTA AKU KAN KEMBALI….

DSCF6752
di Changi airport, siap kembali ke Jakarta.

 

Tidak ada pesta yang tidak berakhir…

It’s time to go home..

sekali lagi kami menggunakan taxi sebagai transport untuk ke airport. Bukan sombong dan congkak sih, apalagi kebanyakkan duit, tapi lebih dari ketidaktahuan kami bagaimana caranya menggunakan MRT.. hahaha norak kan..?

Maskapai kebanggan Indonesia tercinta Garuda Indonesia membawa kami  kembali ke Jakarta, ke kota “seribu satu malam”, dimana banyak orang – orang dari segala pelosok “beradu nyali” untuk sebuah pembuktian diri…

 

….. See you in the other story….

Stay tune @emangbisanulis?

 

 

 

 

 

 

Continue reading Norak-norak Bergembira di Singapore dan Malaysia