LOSARI

loasi-kelabu

Pantai Losari yang merupakan ikon dari kota daeng ini semakin dikenal luas, tidak saja dikalangan masyarakat lokal Makassar saja, tetapi sudah me-Nasional bahkan sampai manca Negara.

‘jasa’ sosial media tidak bisa dianggap enteng. Bagaimana tidak, setiap orang yang berkunjung ke kota Makassar, bisa dipastikan mereka akan datang ke pantai Losari dan mengunggah foto narsis yang berlatar tulisan besar PANTAI LOSARI akan di unggah di beranda facebook atau pun akun sosial media yang lain.

Saya sendiri bukanlah penduduk asli Makassar. Saya dan keluarga pindah ke kota yang terkenal dengan pisang epe dan beberapa kuliner enak lainnya ini, sejak tanggal 9 Agustus 2010, karena suami yang bekerja di salah satu perusahaan provider mendapat tugas disini. Sebelumnya kami menetap di Bali selama hampir 3 (tiga) tahun.

mamapapa
Sebelum menetap, saya pernah beberapa kali kesini. Losari pada saat pertama saya berkunjung di tahun 1998 masih terkesan asli. Belum ada bangunan – bangunan seperti yang kita lihat saat ini, bahkan tulisan PANTAI LOSARI yang termashur itu tidak ada. Yang ada hanya deretan penjual makanan yang berjejer dari selatan ke utara. Berbagai macam kuliner khas seperti pisang eppe, mie kering, coto, es pallu butung, es pisang ijo, dan lain – lain dapat kita jumpai dengan ‘sekali duduk’. Kawasan kuliner ini juga dikenal sebagai warung terpanjang di dunia. Disebut begitu karena panjang warungnya hingga mencapai 1 (satu) kilometer (sumber Wikipedia).

Losari saat ini tentu saja sudah berubah wajah. Bibir pantai yang dulu masih bisa kita nikmati ketika duduk makan pisang epe disalah satu warungnya, kini sebagian sudah tertutup beton. Bangunan – bangunan sudah hampir memenuhi sepanjang pantai ini. Mulai dari Masjid Terapung, patung – patung para pahlawan daerah, patung becak (yang juga menjadi alat transportasi yang sempat berjaya di masanya), patung sapi yang merupakan simbol dari Tanah Toraja, gapura, bangunan kecil yang dijadikan pusat pameran lukisan karya para seniman Makassar, dan tentu saja tidak ketinggalan tulisan – tulisan yang menjadi simbol suku Bugis Makassar terpampang jelas dan nyata, yang dijadikan sebagai latar untuk foto- foto narsis para penikmat pantai.

hasanuddin3

‘Aroma’ reklamasi pantai juga menjadi catatan tersendiri bagi warga kota. Entah ini membawa angin kebahagiaan atau malah sebaliknya. Semoga saja masyarakat umum nantinya masih bisa ikut menikmati senja yang indah tanpa ada gangguan dan retribusi yang harus dibayar pada pengelola pantai. Semoga.

Bagi pengunjung yang ingin berkeliling menikmati pantai, dapat menyewa boat kecil yang berbentuk bebek. Di area pantai Losari juga sekarang berdiri sebuah café terapung.

“cecece, hebat mentong pantai Losari sekarang, di”, seloroh seorang pengunjung lokal dengan logat Makassar yang kental, yang berdiri persis di sebelah saya di suatu senja ketika menikmati matahari yang pulang.

Bagi saya, Losari tidak pernah membosankan. Sunsetnya masih memesona walau sekali – sekali terhalang kapal penumpang atau kapal pengangkut container yang melintas.

Saya dan suami sering menjadikan Losari sebagai tempat jogging, atau sekedar sarapan bubur kacang atau bubur ayam sambil memandang laut sepulang dari mengantar anak ke sekolah.

Sungguh hal itu merupakan kegiatan kecil yang membahagiakan. Sekali pun saya bukanlah warga asli Makassar, namun saya punya “mimpi” untuk pantai ini. Saya membayangkan suatu saat nanti, deretan penjaja makanan bisa diatur dengan rapih. Tidak ada lagi tenda – tenda yang membuat foto sangat tidak INSTAGRAMABLE. Kursi dan meja cafenya dibuat seragam dengan satu warna, dengan penataan teratur seperti café – café cantik di luar negeri.

Mimpi saya mungkin terlalu tinggi, tapi saya yakin kalau ada kemauan dari pemerintah dan seluruh komponen yang berwenang, tentu saja hal itu bukan mustahil bisa terwujud. Tinggal bagaimana kita sebagai warga kota bisa ikut serta memelihara sarana dan prasarana yang ada.

Satu hal lagi, PR kita bersama adalah ikut menjaga kebersihan pantai Losari. Banyak hal – hal kecil yang bisa dilakukan, semisal membuang sampah pada tempat – tempat yang sudah disediakan, tidak membuang puntung rokok yang masih menyala kedalam tong sampah sehingga menyebabkan tong sampah terbakar dan rusak, dll.

Saya yakin, hal – hal kecil ini bisa berdampak besar kalau kita semua mau melakukannya. Hingga pada akhirnya, slogan pemerintah yang menjadikan Makassar sebagai KOTA DUNIA dapat terwujud dan dapat kita banggakan bersama.

 

Cheers…

 

under-the-sunset

 

Catatan : Tulisan ini dibuat sebagai tugas menulis dari kegiatan workshop Blogger Anging Mammiri.

Advertisements

2 thoughts on “LOSARI”

  1. Jadi tertarik ke makassar,tanah nenek moyang yg belum pernah kudatangai.dan baru tau juga warungnya berjejer sampe kilo meter..nice info,
    tiket mana tiket….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s